Orang lain

    Kenapa adikku menolak setiap pujian?

    Pujian itu datang, dan langsung dikembalikan lagi. Bajunya bagus, dan jawabannya baju lama. Masakannya enak, dan jawabannya kurang garam. Kerjanya rapi, dan jawabannya ada yang membantu.

    Yang membuat ini sulit dilihat adalah bahwa di sini menolak pujian memang tata krama. Orang yang menerima pujian mentah-mentah justru yang dianggap kurang tahu diri. Jadi bentuk ini berjalan di dalam sesuatu yang sudah dianggap baik, dan tidak ada yang menegurnya.

    Halaman ini menerangkan sebuah bentuk dari luar, dan tidak menerangkan orang yang duduk semeja denganmu. Mengenali sebuah bentuk belum memberimu hak untuk menamainya atas nama orang lain, dan tidak ada satu kalimat pun di sini yang dibuat untuk diucapkan kepadanya.

    Apa yang terjadi di detik sesudahnya

    Yang bisa kamu lihat hanya kecepatannya. Pujian jatuh, dan jawabannya sudah ada sebelum pujian itu selesai diucapkan. Tidak ada jeda untuk menimbang, dan tidak ada ucapan terima kasih yang berdiri sendiri sebelum bantahannya menyusul.

    Yang berguna dicatat bukan jumlahnya, melainkan siapa yang memuji. Dari orang asing biasanya lewat begitu saja. Dari orang yang dekat, bantahannya lebih cepat dan lebih panjang. Deretan itu yang bicara, bukan angkanya.

    [PENGAMATAN LAPANGAN]

    Satu minggu. Catat tiap pujian yang jatuh di depanmu dan siapa yang mengucapkannya.

    Di sebelahnya tulis apa yang terjadi sesudahnya: dikembalikan, dipotong, atau dialihkan ke orang lain.

    Jangan mengomentari satu pun. Minggu ini kamu hanya melihat.

    Sopan santun dan refleks kelihatan sama

    Bedanya ada di jam, dan jam itu tidak terlihat dari luar. Tata krama datang sesudah seseorang membaca ruangan dan memilih jawabannya. Refleks datang sebelum ada yang dibaca: sinyal tubuh lebih dulu, jawabannya menyusul, dan pilihan tidak pernah lewat.

    Karena itu menyuruhnya berhenti merendah tidak menyentuh apa pun. Yang disuruh berhenti adalah langkah terakhir, dan langkah terakhir itu yang membereskan tekanannya. Kalau langkah itu ditahan, tekanannya tinggal di badan dan urutannya tetap jalan.

    [CARA KERJA]

    Pujian masuk. Sesuatu di dada atau di tenggorokan mengetat, dan itu terjadi sebelum ada pikiran.

    Bantahannya keluar, dan tekanan tadi turun.

    Turunnya tekanan itulah upahnya. Karena itu bentuk ini bertahan tanpa ada yang membelanya.

    Yang tidak terlihat dari tempat dudukmu

    Apakah ini memang bentuk itu, atau memang begitu cara rumah ini bicara. Dari kursimu keduanya sama persis, dan halaman ini tidak akan berpura-pura bisa memisahkannya untukmu.

    Dan apa yang ada di belakangnya. Halaman ini tidak menyatakan apa pun soal itu. Tidak ada nama yang bisa kamu berikan dari luar lalu berubah jadi keterangan begitu diucapkan; nama dari luar tetap sebuah putusan.

    Ada satu hal lagi, dan hanya hal ini yang bisa kamu uji sendiri. Kalau kamu memuji lebih keras supaya pujianmu masuk, yang bertambah adalah tekanannya. Mengujinya berarti berhenti melakukannya selama seminggu dan mencatat apa yang terjadi.

    Rasa yang muncul di pihakmu

    Ada rasa jengkel, dan rasa itu boleh ada. Memuji seseorang lalu ditolak berkali-kali membuat orang berhenti memuji, dan sesudah itu datang rasa bersalah karena berhenti. Lapisan kedua itu milikmu dan lapisan itu berguna.

    Dan ada godaan untuk membuktikan. Menyodorkan bukti bahwa pujianmu benar akan membuat percakapannya jadi soal bukti, dan bentuk yang tadi berjalan tidak tersentuh sedikit pun.

    Yang memang ada di tanganmu adalah bentuk pujianmu sendiri. Kalimat yang menyebut satu hal yang kamu lihat, tanpa penilaian tentang orangnya, lebih sulit dikembalikan daripada kalimat tentang siapa dia. Itu bukan siasat dan bukan jaminan. Itu hanya kalimat yang bentuknya lain.

    [CERMINAN]

    Kamu pernah berhenti memuji, supaya orang itu tidak jadi tidak nyaman.

    Kamu pernah memuji dua kali di kalimat yang sama, berharap yang kedua tersangkut.

    Kamu pernah merasa pujianmu sendiri terdengar berlebihan, padahal isinya tidak berubah.

    Satu minggu, tanpa berkomentar

    Tidak menamai apa pun atas nama orang lain, dan tidak menerangkan apa pun kepadanya. Yang dikerjakan minggu ini ada di kolommu sendiri.

    [TUGAS LAPANGAN]

    Tujuh hari. Tiap pujian yang jatuh di depanmu, satu baris: siapa yang mengucapkan, dan apa yang terjadi sesudahnya.

    Ubah bentuk pujianmu sendiri satu kali saja: sebut satu hal yang kamu lihat, bukan siapa dia. Catat apa yang terjadi, bukan apa yang kamu harapkan terjadi.

    Jangan berkomentar tentang bantahannya. Melihat dan menilai adalah dua minggu yang berbeda.

    Kalau yang kamu kenali di keterangan ini justru dirimu sendiri, ada berkas untuk itu: Pola Menolak Pujian. Berkas itu ditulis untukmu, tentang detik sesudah sebuah pujian jatuh di depanmu, dan berkas itu tidak membuka apa pun tentang orang lain.

    Pertanyaan lain di sekitar pertanyaan ini

    Bukankah menolak pujian itu memang sopan?

    Sering memang sopan, dan itulah yang membuat bentuk ini sulit dilihat. Yang dibicarakan di sini bukan tata kramanya, melainkan kecepatannya: jawaban yang sudah berdiri sebelum pujiannya selesai diucapkan datang dari tempat lain daripada jawaban yang dipilih.

    Perlu tidak aku memaksanya menerima pujian?

    Jangan. Memaksa menambah tekanan di tempat yang tekanannya sudah penuh, dan tekanan itu yang menyalakan urutannya sejak awal. Yang kamu dapat adalah bantahan yang lebih panjang.

    Apa yang terjadi kalau aku memuji lebih sering?

    Biasanya bantahannya jadi lebih panjang, bukan lebih pendek. Itu satu-satunya hal di halaman ini yang bisa kamu uji sendiri, dan mengujinya berarti berhenti selama seminggu lalu mencatat apa yang terjadi.

    Apakah ini karena dia tidak percaya diri?

    Itu keterangan yang paling sering dipakai, dan keterangan itu soal bagaimana seseorang terlihat dari luar. Yang diterangkan di sini adalah sebuah urutan yang punya jam mulai. Dua hal itu bisa berdiri berdampingan tanpa saling menerangkan.

    Apakah keluarga kami yang membentuknya begitu?

    Arsip ini tidak tahu. Sebuah rumah bisa mengajarkan tata krama dan sebuah urutan bisa berjalan di dalam tata krama itu, dan yang mana yang kamu lihat hanya bisa dijawab oleh orangnya sendiri.

    Aku jadi malas memuji. Apakah itu wajar?

    Wajar, dan rasa malas itu berguna. Biasanya rasa itu datang tepat sebelum orang berhenti memuji sama sekali, dan berhenti sama sekali mengubah apa yang bisa kamu lihat minggu depan.

    Boleh aku menunjukkan halaman ini kepadanya?

    Lebih baik jangan. Tulisan yang disodorkan dari luar sampai sebagai putusan tentang watak seseorang, dan yang dibicarakan sesudahnya adalah putusan tadi, bukan apa yang sedang terjadi.

    Apa bedanya dengan orang yang memang tidak suka disorot?

    Dari luar tidak ada bedanya, dan itu jujur. Bedanya ada di jarak antara pujian dan jawaban. Jarak itu terasa dari dalam dan tidak pernah terlihat dari kursimu.

    Bagaimana kalau aku juga melakukannya?

    Kalau begitu ada berkas untuk itu, ditulis untukmu, tentang dada dan tenggorokanmu sendiri di detik sesudah pujian jatuh. Halaman ini tetap soal melihat.

    Kenapa halaman ini tidak menyebut satu nama untuk yang sedang terjadi?

    Karena sebuah urutan adalah milik orang yang menjalankannya. Nama yang datang dari luar adalah putusan, bukan keterangan, dan arsip ini belum pernah bertemu orang yang kamu baca di sini.

    Apakah bantahannya berarti dia tidak percaya kepadaku?

    Bantahan itu datang lebih cepat daripada penilaian tentang kamu, jadi bantahan itu bukan jawaban atas siapa yang memuji. Satu hal menunjukkannya: bentuknya sama waktu yang memuji orang lain.

    Apa yang sebaiknya kukatakan lain kali?

    Halaman ini tidak memberimu kalimat untuk diucapkan kepadanya, dan itu bukan kekurangan. Yang ada di tanganmu adalah bentuk pujianmu sendiri: satu hal yang kamu lihat, tanpa penilaian tentang orangnya. Apa yang terjadi sesudahnya bukan bagian yang bisa kamu atur.

    Arsip ini

    Apa yang sudah ada dalam bahasa Indonesia dan apa yang belum, ada di balik pintu.

    Yang ada dalam bahasa Indonesia