Orang lain

    Kenapa pasanganku menyuruhku pergi, lalu menahanku?

    Pintunya dibuka lebar untukmu, pergi kalau mau.

    Lalu kamu meraih kunci, dan kalimatnya berbalik. Jangan pergi. Bagaimana bisa kamu terpikir untuk pergi. Kadang katanya putus. Kadang katanya pisah. Kadang kamu diusir, lalu ditahan di pintu.

    Halaman ini tentang sisimu dari keadaan itu. Halaman ini tidak akan menyebut pasanganmu orang yang seperti apa. Itu putusan tentang orang yang tidak pernah membuka berkas di sini. Kalau ada rasa takut di dalamnya, mulai dari bagian pertama dan berhenti di sana. Sisa halaman ini untuk ruangan yang tidak ada yang takut.

    Sebelum yang lain

    Satu hal mengalahkan sisa halaman ini. Pasangan yang bilang pergi lalu menghalangi pintu kadang sedang menjalankan sebuah pemeriksaan. Kata-kata yang sama juga dipakai untuk menahan seseorang di tempatnya. Kalau bicara soal pergi itu datang bersama rasa takut, bersama barang yang dilempar, bersama ponselmu yang dibaca atau temanmu yang dijauhkan, ini bukan halaman yang tepat. Itu pengendalian, dan nomornya ada di sini. Sebuah pola menerangkan bentuk. Ia tidak pernah memaafkan kekerasan, dan ia tidak pernah jadi alasan untuk tinggal di tempat kamu takut sambil menunggu seseorang mengerjakan dirinya.

    Kalau sekarang ada bahaya, telepon 112. Kamu tidak perlu memutuskan dulu apakah keadaannya sudah cukup gawat.

    Layanan 112 belum aktif di semua kabupaten dan kota. Kalau 112 tidak tersambung, telepon 110 untuk polisi, atau 119 untuk gawat darurat medis.

    Kalau di rumah tidak aman, SAPA 129 ada siang dan malam untuk perempuan dan anak: telepon 129 atau WhatsApp ke 08111-129-129.

    Di Indonesia belum ada nomor yang bisa kamu telepon hanya untuk bicara, jam berapa pun. Yang ada adalah nomor darurat di atas, dan itu untuk keadaan yang membahayakan tubuh. Itu keadaan layanan di negara ini, bukan penilaian tentang kamu atau tentang apakah yang kamu alami sudah cukup berat. Kalau malam ini terasa terlalu panjang, hubungi satu orang yang kamu kenal. Tidak perlu orang yang paling dekat, cukup orang yang bisa dihubungi sekarang.

    Kalau tidak satu pun dari itu ada di ruangan, yang berikut ini untukmu. Ia menganggap kamu sudah memeriksa, dan jawabannya tidak.

    Yang sebenarnya kamu lihat

    Kalimatnya punya dua bagian dan keduanya datang berselang beberapa menit. Pertama: pergi, kalau itu yang kamu mau. Lalu, begitu kamu bergerak: kamu memang mau pergi. Jadi itu yang kamu inginkan selama ini.

    Kadang bentuknya jeda. Aku butuh waktu. Kamu bilang tidak apa-apa, ambil waktunya. Dan mengambil waktu itu jadi kesalahannya. Kamu membiarkan dia pergi. Kamu tidak berjuang.

    Perhatikan waktunya, karena itu bagian yang membuatnya bisa dikenali. Ia jarang datang sesudah minggu yang buruk. Ia datang sesudah minggu yang baik, karena hal kecil, di hari Minggu sesudah masa paling tenang yang kalian punya berbulan-bulan.

    [PENGAMATAN LAPANGAN]

    Ingat tiga kali terakhir kalimat itu keluar.

    Untuk tiap kali, tulis apa yang terjadi seminggu sebelumnya: pertengkaran besar, atau hari-hari yang justru dekat.

    Dan perhatikan apa yang bukan: ini bukan permintaan. Permintaan bisa dikabulkan. Ini tidak bisa, karena mengabulkannya adalah jawaban yang gagal.

    Kenapa pintunya dibuka

    Baca kalimatnya sebagai pertanyaan dan ia mulai masuk akal. Pergi kalau mau bukan sedang memintamu pergi. Ia sedang bertanya: apa kamu mau?

    Itu pemeriksaan, dan pemeriksaan butuh bukti. Kalau kamu tinggal dan berdebat, itu bukti. Kalau kamu mengambil kunci, itu bukti jenis lain. Dua-duanya, ada yang ketahuan.

    Bukti yang diminta tidak bertahan. Sebagian dari orang yang memintanya tahu bagaimana pertanyaannya dipasang. Jadi lega karena kamu tinggal bertahan satu malam, dan akhir pekan berikutnya pintunya dibuka lagi.

    Tuntutan di baliknya adalah tuntutan yang tidak bisa dipenuhi siapa pun. Bukan tinggal malam ini. Tapi buktikan kamu tidak akan pernah pergi. Tidak ada orang yang punya bukti itu, dan itu sebabnya pemeriksaannya tidak bisa lulus dan terus dijalankan.

    Kalimatnya bilang pergi. Yang diperiksa apakah kamu mau.

    Yang tidak bisa dibaca dari luar, dan yang terjadi di tubuhmu

    Ini bukan soal apakah kamu diinginkan di sana. Kamu sudah diberi tahu, keras-keras, biasanya satu jam sesudah disuruh pergi. Dua kalimat itu sama-sama dimaksudkan waktu diucapkan. Ini bukan soal hal kecil yang jadi bahan pertengkarannya. Pertengkarannya mengambil ukurannya dari pemeriksaannya, bukan dari pokoknya.

    Ini bukan sesuatu yang kamu sebabkan. Kalimatnya datang utuh, beberapa detik di belakang jantung yang cepat, di tubuh yang bukan tubuhmu. Tidak ada versi perilakumu yang sampai ke detik-detik itu. Dan ini bukan sesuatu yang diperbaiki dengan tinggal lebih keras. Pemeriksaan yang tidak bisa lulus tidak lulus karena kamu berusaha lebih. Dua tahun berusaha bukan kegagalan usaha. Apa yang terasa di dalam diri pasanganmu waktu kalimatnya keluar, dari tempatmu tidak kelihatan, dan halaman ini tidak akan menebaknya.

    Sekarang balik halamannya ke arahmu sebentar. Perhatikan apa yang terjadi di dalammu waktu kalimatnya mendarat. Perut anjlok. Panas naik ke leher. Tangan yang meraih kunci, atau ponsel, atau pidato.

    [CARA KERJA]

    Anjlok itu sinyal tubuhmu, tanda fisik pertama bahwa polamu sendiri mulai. Kamu merasakannya sebelum memutuskan apa pun.

    Sesudahnya ada celah, beberapa detik antara sinyal dan jawaban yang biasa.

    Lalu jawaban yang biasa. Memohon. Membalas ancamannya dengan yang lebih keras. Pidato panjang berisi bukti. Mengemasi tas untuk menunjukkan kamu bisa.

    Masing-masing adalah balasan untuk pemeriksaannya. Masing-masing memberinya makan. Itu sebabnya malamnya berakhir dengan cara yang sama setiap kali.

    Yang tetap di tanganmu, dan ongkosnya

    Bukan kalimatnya. Bukan pemeriksaannya. Bukan apakah ia berjalan lagi hari Minggu depan. Yang milikmu adalah balasannya, dan itu bukan hadiah hiburan. Sering itu yang mengubah ruangannya.

    [TUGAS LAPANGAN]

    Selama tujuh hari, catat tiap malam: ada kalimat pergi, atau tidak.

    Kalau ada, catat balasanmu: memohon, membalas, pidato, mengemasi tas, atau satu kalimat lalu duduk.

    Satu kalimat yang bisa kamu pakai untuk malammu sendiri: aku tidak pergi malam ini, dan aku tidak mau berdebat soal apakah aku harus pergi. Tanya aku besok kalau perlu. Lalu kerjakan persis itu.

    Jawab satu kali, dengan hangat, dan jangan masuk putaran kedua. Jawaban pertama adalah jawaban sungguhan untuk ketakutan yang sungguhan. Jawaban keempat di malam yang sama adalah bahan bakar.

    Periksa apa yang berubah di dalammu. Apakah kamu berhenti menyebut rencana supaya tidak ada yang terbaca sebagai pergi. Apakah kamu sudah mengeluarkan kata pergi dari mulutmu sendiri, bahkan sebagai candaan. Apakah kamu minta maaf untuk menurunkan suhu atas hal yang tidak kamu lakukan. Apakah kamu berhenti percaya arti polos sebuah kata: pergi artinya tinggal, tidak apa-apa artinya ada apa-apa. Orang yang hidup begitu cukup lama berhenti percaya bacaannya sendiri atas sebuah ruangan. Masing-masing itu adalah pola dengan nama dan berkas, dan maaf yang datang sebelum ada yang memintanya punya sinyal tubuh yang bisa kamu tangkap.

    Dan kalau yang kamu kenali di halaman ini justru kalimat itu keluar dari mulutmu sendiri di hari Minggu yang baik, dan paniknya waktu kalimat itu diterima apa adanya, ada berkas untuk itu: Pola Menguji. Berkas itu ditulis untukmu, tentang tubuhmu dan pemeriksaanmu sendiri, dan berkas itu tidak membuka apa pun tentang pasanganmu.

    Pertanyaan lain di sekitar pertanyaan ini

    Kenapa pasanganku menyuruhku pergi lalu marah waktu aku menurut?

    Karena pergi kalau mau adalah pertanyaan yang berpakaian permintaan. Ia bertanya apakah kamu mau pergi. Menurut adalah jawaban yang gagal, dan itu sebabnya suasananya berbalik begitu kamu bergerak ke pintu.

    Haruskah aku pergi waktu pasanganku menyuruhku pergi?

    Halaman ini tidak bisa memutuskan itu untukmu, dan tidak jujur kalau mencoba. Yang bisa dicatat: pergi untuk lulus sebuah pemeriksaan tetap ikut bermain di pemeriksaannya. Jawab satu kali, tinggal malam ini, dan putuskan hal besar di siang hari.

    Apa kalimat putus saja itu sebuah ujian?

    Sering bekerja seperti itu, apa pun namanya. Ujian butuh bukti, dan bukti yang diminta cepat kedaluwarsa. Itu sebabnya tinggal menyelesaikannya untuk satu malam dan bukan untuk satu bulan.

    Apa yang kukatakan waktu pasanganku menyuruhku pergi?

    Sesuatu yang pendek yang menolak pemeriksaannya tanpa menolak orangnya. Aku tidak pergi malam ini, dan aku tidak mau berdebat soal apakah aku harus. Tanya aku besok kalau perlu. Lalu duduk.

    Kenapa selalu sesudah minggu yang baik?

    Karena minggu yang baik adalah minggu ketika ada sesuatu yang bisa hilang, dan pemeriksaan dijalankan waktu ada yang bisa hilang. Pertengkaran kecilnya cuma pintu masuk; ukurannya diambil dari pemeriksaannya.

    Bagaimana kalau katanya diusir, bukan cuma disuruh pergi?

    Kalau diusir datang bersama rasa takut, barang yang dilempar, atau anak yang ada di rumah, bagian pertama halaman ini didahulukan dan nomornya ada di sana. Kalau tidak, bentuknya sama: kalimat yang berbalik begitu kamu bergerak.

    Apa pasanganku tidak menginginkanku?

    Halaman ini tidak bisa menjawab itu, dan tidak akan menebaknya. Yang bisa dicatat: kamu sudah diberi tahu diinginkan, keras-keras, biasanya satu jam sesudah disuruh pergi, dan dua kalimat itu sama-sama dimaksudkan waktu diucapkan.

    Kenapa tinggal dan berjuang tidak menyelesaikannya?

    Karena pemeriksaan yang tidak bisa lulus tidak lulus karena kamu berusaha lebih. Tuntutan di baliknya, buktikan kamu tidak akan pernah pergi, tidak bisa dipenuhi siapa pun. Berjuang lebih keras cuma memberi makan putaran berikutnya.

    Boleh aku menunjukkan halaman ini kepada pasanganku?

    Lebih baik jangan. Tulisan yang disodorkan dari luar sampai sebagai putusan tentang watak seseorang, dan yang dibicarakan sesudahnya adalah putusan itu, bukan malam-malam yang kamu jalani.

    Kenapa aku jadi minta maaf untuk hal yang tidak kulakukan?

    Karena maaf menurunkan suhu, dan tubuhmu sudah belajar itu. Itu pola dengan berkasnya sendiri, dan ia punya sinyal yang bisa kamu tangkap: perut anjlok, beberapa detik sebelum katanya keluar.

    Apa yang bisa kulakukan besok pagi?

    Satu hal: sapa dengan nada biasa, tanpa bukti dan tanpa pidato. Lalu catat untuk dirimu sendiri apa yang terjadi di tubuhmu semalam waktu kalimatnya mendarat, dan apa balasanmu.

    Arsip ini

    Apa yang sudah ada dalam bahasa Indonesia dan apa yang belum, ada di balik pintu.

    Yang ada dalam bahasa Indonesia