Satu masa

    Kenapa kebiasaan baru selalu berhenti di tahun pertama setelah pensiun?

    Jam wekernya diam, dan harinya tetap datang.

    Ada rencana yang sudah lama ditunda: berjalan pagi, berkebun, belajar sesuatu, usaha kecil. Satu dimulai, berjalan tiga minggu, lalu berhenti tanpa alasan yang bisa disebut.

    Halaman ini bukan tentang cara mengisi waktu. Ini tentang dua hal yang sudah ada sebelumnya dan makin kencang berjalan di tahun ini.

    Apa yang bukan tahun ini

    Pensiun bukan berkas, dan hari yang terasa kosong juga bukan. Kehilangan jadwal yang dijalani puluhan tahun bukan pola. Merindukan orang-orang di tempat kerja bukan pola. Itu yang memang terjadi.

    Tidak ada juga di sini soal uang pensiun, soal tabungan, atau soal usaha apa yang cocok. Itu berbeda untuk tiap orang dan tiap keadaan, dan arsip ini tidak mencatatnya.

    Yang ada di sini lebih sempit. Tahun ini tidak membuat urutan baru. Tahun ini mengambil jadwal yang dulu menutupi urutan yang sudah ada, dan itu membuatnya lebih mudah dilihat.

    Berkas mana yang makin kencang berjalan di sini

    Yang pertama Sabotase saat Berhasil. Kebiasaan baru jarang berhenti di minggu pertama, waktu masih berat. Kebiasaan itu berhenti di minggu ketiga atau keempat, waktu mulai lancar dan mulai terasa jadi milikmu. Dulu kantor menutupi bentuk ini. Sekarang tidak ada lagi yang menutupinya.

    Yang kedua Ikatan yang Menguras. Karena kamu sekarang punya waktu, kamu jadi orang yang selalu bisa dimintai datang. Ada satu orang yang kunjungannya tidak bisa ditolak, dan sesudah setiap kunjungan sisa harimu tidak bisa dipakai.

    [CERMINAN]

    Kamu berhenti berjalan pagi di minggu ketika kakimu mulai terasa ringan.

    Kamu bilang ke diri sendiri besok saja, lalu besoknya juga.

    Kamu pulang dari satu kunjungan dan tidak melakukan apa pun sampai malam.

    Yang bisa kamu perhatikan

    Kapan sebuah kebiasaan berhenti. Bukan kenapa, melainkan di minggu ke berapa, dan apa yang sedang terjadi di minggu itu. Kalau berhentinya selalu jatuh sesudah minggu yang lancar, itu keterangan tentang urutannya, bukan tentang kemauanmu.

    Dan harinya sesudah satu kunjungan. Bukan isi kunjungannya, melainkan jam-jam sesudahnya. Satu hari yang hilang karena satu kunjungan bisa dihitung.

    [PENGAMATAN LAPANGAN]

    Tepat sebelum melewatkan kebiasaan itu, ada yang terasa di badan: berat di dada, gelisah di perut.

    Keputusan untuk tidak berangkat datang beberapa detik sesudahnya.

    Detik itu yang dicari. Bukan alasannya.

    Yang bisa dikerjakan di tahun ini

    Satu kebiasaan, dibuat sekecil mungkin supaya tidak ada yang perlu dipertahankan. Sepuluh menit, bukan satu jam. Dan satu tanda di kalender setiap kali kebiasaan itu dikerjakan, supaya minggu yang lancar terlihat sebelum urutannya datang.

    Dan satu baris catatan sesudah setiap kunjungan yang tidak bisa ditolak: jam berapa kamu pulang, dan apa yang terjadi pada sisa harimu. Bukan untuk berhenti berkunjung. Untuk melihat ongkosnya.

    [TUGAS LAPANGAN]

    Pilih satu kebiasaan sepuluh menit dan beri tanda di kalender setiap kali dikerjakan.

    Waktu tiga tanda berturut-turut sudah ada, tulis satu baris tentang apa yang terasa di badanmu.

    Sesudah setiap kunjungan yang tidak bisa ditolak, tulis jam pulang dan apa yang terjadi pada sisa hari itu.

    Pertanyaan lain di sekitar pertanyaan ini

    Apakah pensiun itu salah satu dari sembilan berkas?

    Tidak. Yang kamu alami adalah perubahan besar dalam hidupmu, bukan urutan yang terus kembali. Yang ada di sini soal dua perilaku yang sudah ada sebelumnya dan makin kencang berjalan di tahun ini.

    Kenapa kebiasaan baruku berhenti justru waktu mulai lancar?

    Karena lancar adalah saat sesuatu mulai jadi milikmu, dan di situ berkas yang pertama berhenti. Kebiasaan yang masih berat jarang ditinggalkan. Kebiasaan yang mulai berhasil yang ditinggalkan.

    Apakah aku memang malas sejak pensiun?

    Tidak ada yang dicatat di sini tentang malas. Orang yang malas tidak memulai. Yang dicatat di sini adalah kebiasaan yang dimulai, berjalan, lalu berhenti di minggu yang sama berulang kali.

    Apa yang sebaiknya kulakukan setelah pensiun?

    Itu keputusan tentang hidupmu, dan arsip ini tidak mengambilnya. Yang bisa ditawarkan halaman ini lebih kecil: satu kebiasaan sepuluh menit, dan satu tanda di kalender untuk melihat di minggu ke berapa kebiasaan itu berhenti.

    Kenapa dulu waktu masih bekerja aku tidak seperti ini?

    Karena jadwal kantor menutupi urutan ini. Ada orang yang menunggu, ada jam yang pasti, ada yang menegur kalau kamu tidak datang. Tahun ini mengambil semua penutup itu sekaligus.

    Kenapa satu kunjungan bisa menghabiskan satu hari?

    Karena yang habis bukan jam kunjungannya, melainkan tenaga berjaga sebelum dan sesudahnya. Bentuk itu dicatat berkas yang kedua, dan bentuk itu sudah ada sebelum kamu pensiun.

    Apakah wajar merasa tidak berguna setelah pensiun?

    Itu bukan pertanyaan yang dijawab arsip ini, dan perasaan itu bukan pola. Yang ada di sini hanya dua perilaku yang bisa dihitung, sementara perasaan itu tetap berjalan.

    Haruskah aku mencari pekerjaan lagi?

    Itu keputusanmu, dan arsip ini tidak punya pendapat tentangnya. Yang bisa dicatat hanya bahwa pekerjaan baru bisa menutupi urutan yang sama lagi, tanpa menghentikannya.

    Kenapa kebiasaannya harus sepuluh menit saja?

    Karena kebiasaan yang kecil tidak perlu dipertahankan dengan tenaga. Yang dicari bukan hasilnya, melainkan minggu ketika kebiasaan itu mulai lancar, dan minggu itu lebih cepat datang kalau kebiasaannya kecil.

    Bagaimana kalau aku tidak bisa menolak kunjungan itu?

    Sering memang tidak bisa, dan halaman ini tidak menyuruhmu menolaknya. Yang bisa dikerjakan lebih kecil: satu baris catatan sesudahnya, supaya ongkosnya terlihat.

    Berkas mana yang harus kubaca duluan?

    Yang paling sering muncul di catatanmu. Kalau yang paling banyak adalah kebiasaan yang berhenti di minggu yang lancar, mulai dari berkas yang pertama. Kalau yang paling banyak adalah hari yang habis, mulai dari yang kedua.

    Arsip ini

    Yang ada dan yang tidak ada di bahasa Indonesia tertulis di pintu.

    Yang ada dalam bahasa Indonesia